Sabtu, 08 Januari 2011

Kappa


Judul novel  : Kappa
Penulis          : Ryunosuke Akutagawa
Penerjemah : Andi Bayu Nugroho
Penerbit        : Interprebook
Cetakan        : 2009

Novel ini menceritakan tentang kisah tokoh aku yang terdampar di negeri kappa. Saat itu dia sedang mengejar seekor kappa yang dilihatnya saat beristirahat di lembah sungai Azusa ketika mendaki gunung Hodaka. Saat sadar karena pingsan, dia melihat banyak kappa sedang mengerumuninya, salah satu dari mereka  terlihat kappa yang memakai pince-nez di atas paruhnya, seperti dokter, karena sedang memeriksa dadanya dengan stetoskop. Tak lama, dia dibawa oleh dua kappa dengan tandu dan dibawa ke rumah kappa yang memakai pince-nez yang dikenal sebagai dokter Chak. Dia merawat tokoh aku, dan sesuai adat tradisi kappa, dia menjadi tetangga dokter Chak dengan status sebagai orang yang dilindungi secara khusus.
Tokoh aku menjadi salah satu manusia yang menetap di negeri kappa, dia mempelajari bahasanya dan berteman dengan beberapa kappa lain selain Chak. Seperti Bag, si pencari ikan yang tak lain adalah kappa yang dikejarnya di lembah, Lap, seorang murid kappa, Tok, si kappa penyair, Mag, si filusuf, Krabach, kappa komposer yang jenius, Pep, si hakim, dan Gael, kappa kapitalis direktur perusahaan gelas.
Kappa itu memiliki tinggi kira-kira 1 meter. Rambut kepala kappa pendek, tangan dan kakinya berjari. Di atas kepalanya terdapat lekukan cekung berisi sedikit air. Sebelum kappa kehilangan air di atas kepalanya, ia lebih kuat dari laki-laki yang paling perkasa sekalipun. Kappa hidup di air, biasa keluar di malam hari untuk mencuri semangka, apel, dan hasil ladang lainnya. Kulitnya sangat licin sehingga membuat kappa sulit untuk di tangkap.
Di negeri kappa, selain memahami bahasa, tokoh aku juga mempelajari tentang kehidupan kappa, seperti seni dan seniman, hubungan laki-laki dan perempuan, agama, dan juga sosial ekonomi kappa. Seperti halnya manusia, kappa juga memiliki tingkat sosial yang sangat tinggi dan sudah maju. Seekor kappa ada karena kemauannya sendiri. Sebelum dilahirkan, janin kappa akan ditanya apakah ingin dilahirkan ke dunia atau tidak, dan jika si janin tidak ingin dilahirkan, maka dia tidak akan dilahirkan. Untuk mengetahui umur kappa, hanya dengan melihat cekungan di kepalanya kita akan mengetahuinya. Jika cekungannya sudah keras, maka umurnya sudah tua.
Sesuatu yang menurut manusia adalah hal yang serius, selalu dianggap hal yang lucu dan tidak berarti di negeri kappa. Sedangkan yang dianggap manusia merupakan hal yang biasa saja, kappa akan menanggapinya dengan serius. Suatu ketika tokoh aku bertanya tentang sistem bercinta kappa, di mana seekor kappa betina memikat kappa jantan dengan tatapan matanya, dan setelah merasa tepat, ia akan berusaha dengan cara apapun untuk memilikinya, dengan menggunakan trik apapun, bahkan ada yang sampai mengejar kappa jantan dengan membabi buta. Mereka hanya menjawabnya dengan bercanda. Ada lagi tentang pekerjaan, saat ditanya mengapa tidak ada buruh di negeri kappa yang mogok, dengan santai Gael, kappa direktur perusahaan gelas mengatakan bahwa para buruh itu mereka makan. Tokoh aku tidak paham, sehingga Chak menjelaskan bahwa kappa membunuh para buruh yang kehilangan pekerjaan dan memakan dagingnya. Ini disebabkan karena di negeri kappa ada undang-undang penyembelihan para buruh, begitu juga dengan masalah hukum.
Kappa juga berperang seperti manusia dan juga memiliki agama. Kappa ada yang Islam, Kristen, Budha, dan memeluk agama lainnya. Namun, umumnya kappa menjadi kaum modernis yang juga menjalankan pemujaan hidup, yang mereka sebut dengan Viverisme.
Lama-lama, tokoh aku tidak tidak tahan lagi dengan sistem kehidupan kappa yang tidak diterima oleh akalnya. Dia ingin kembali ke dunia manusia, namun tidak tahu  bagaimana caranya. Dia berusaha mencari lubang tempat dia jatuh, tetapi tidak menemukannya. Bag memberitahunya tentang seorang kappa tua yang kesehariannya membaca buku dan meniup seruling pasti bisa membantunya. Dia pun mengikuti saran Bag dan mencari kappa tersebut di pinggiran kota. Akhirnya dia menemukan kappa itu, tetapi berbeda dengan yang diceritakan Bag, kappa peniup seruling itu masih sangat muda, seperti baru berumur dua belas tahun. Tokoh aku menyampaikan maksudnya, dan mengatakan bahwa dia tidak dapat menemukan lubang tempat di mana dia jatuh. Kappa itu menuju sudut ruangan rumahnya, di mana sebuah tali tergantung di langit-langit. Dia menarik tali itu dan membuka sebuah atap kaca yang dibaliknya terlihat pohon-pohon pinus dan cemara, juga langit dan ranting-ranting pohon. Kappa itu mengatakan bahwa dia bisa melewai jalan ini. Sebelum tokoh aku pergi, kappa itu bertanya apakah dia serius dan tidak tidak menyesal sehingga berniat untuk kembali lagi ke negeri kappa. Dengan sangat yakin, dia mengatakan tidak akan pernah kembali lagi. Dengan menggunakan tali sebagai tangganya, akhirnya dia sampai ke tempat yang diinginkannya.
Sesampainya di dunia manusia, tokoh aku malah mencium bau manusia dengan sangat jijik. Dia merasakan bahwa kappa lebih bersih dari manusia. Hal ini karena dia telah lama hidup dan berinteraksi dengan kappa. Untuk beberapa lama, dia tidak berani melihat manusia. Kepala manusia sangat mengerikan baginya karena berbeda dengan kepala kappa yang memiliki cekungan. Karena urusan tertentu akhirnya dia berani melihat manusia dan berinteraksi, meskipun kadang masih suka terbiasa berbicara dengan bahasa kappa. Lama-lama dia merasa tidak tahan dan ingin kembali ke dunia kappa, dia merasa dunia kappa adalah negerinya sendiri. Namun, dia malah terbaring di rumah sakit. Dia di rawat di rumah sakit jiwa dan dikenal sebagai pasien No.23.

Tidak ada komentar: