Selasa, 07 Desember 2010

Aneka Konsep Kedataan Lingual dalam Linguistik (Sudaryanto 1990)


1.     Data dan objek penelitian
Data dengan objek penelitian itu berbeda. Data kedudukannya lebih tinngi dibandingkan dengan objek penelitian. Data, jamak dari datum adalah bahan penelitian, bisa juga dikatakan sebagai bahan jadi penelitian baik berupa kekata (kelas kata, frasa), kalimat, klausa, maupun kalimat imperatif (kalimat perintah). Objek penelitian disebut juga gegenstand merupakan objek (sasaran) yang akan diteliti. Objek penelitian ini berada di dalam data yang telah dikumpulkan, dan selanjutnya diteliti. Seperti dalam morfem reduplikasi {R-}, bapak, ini disebut objek penelitian, di mana kita akan mengkaji morfem reduplikasi pada bapak tersebut. Adapun datanya dapat ditunjukkan, seperti:
a.           Dia berpakaian seperti bapak-bapak
b.           Kepada bapak-bapak dipersilahkan berdiri
c.           Semua yang mengikuti rapat itu adalah bapak-bapak, tidak ada ibu-ibu.
(a), (b), dan (c) di atas lah yang disebut dengan data.
2.     Sifat hubungan antara data sebagai objek penelitian
Hubungan antara data sebagai objek penelitian bersifat vertical. Dapat terlihat dengan jelas, bahwa data merupakan satuan lingual yang lebih besar daripada objek penelitiannya.
3.     Dimensi linear data dan konteks objek penelitian
Data selalu bersifat linar karena dia merupakan wujud konkret bahasa, dengan kata lain, data juga bersifat segmental. Dapat dirumuskan bahwa data adalah objek plus segmen atau plus potongan atau unsure sisanya. Uunsur sisa atau potongan sisa yang segmental itu dapat disebut konteks. Dengan demikian rumusan data dapat dituliskan dengan:
D (data) = Op (objek penelitian) + K (konteks)
Konteks objek penelitian hanya mungkin berada di depan, mendahului, berada di sebelah kiri, atau berada di belakang, mengukuti di sebelah kanan objek penelitiannya. Konteks itu ,merupakan penentu identitas objk sasaran penelitian. 
4.     Konteks data
Tidak hanya objek penelitian yang memiliki konteks, data juga memiliki konteks. Konteks data ini ada empat macam, yaitu
a.  Isi tuturan
Isi tuturan di sini dapt berupa informasi, situasi, substansi lingual, atau ha-hal apa pun yang diungkapkan atau dinyatakan tuturan.
b.  Penutur
Penutur di sini harus memiliki tiga aspek, yaitu identitas orang pertama, atau pembicara yang ditentukan baik dari status sosialnya maupun asal lingkungan tempat tinggalnya. Aspek yang kedua, yaitu sifat khas dalm mengartikulasikan tuturan, atau cara si penutur menuturkan bahasanya. Asspek yang ketiga, yaitu pikiran atau anggapan si penutur terhadap hal yang dituturkan.
c.   Hubungan antar penutur
Hubungan antar penutur di sini menyangkup antara lain kadar keintiman dan keformalan hubungan orang-orang yang terlibat dalam peristiwa pertuturan yang didukung oleh factor-faktor tertentu.
d.  Tuturan di luar data
Di sini tuturan yang berada di luar tuturan disebut dengan tuturan di luar data. Ini juga merupakan salah satu konteks data karena konteks data itu dapat terlihat juga di luar tuturan yang disajikan.

Mengenal Minka (rumah adat Jepang)

    1. Minka (民家)
Rumah rakyat Jepang disebut dengan 民家 (minka), yang secara harfiah berarti rumah rakyat. Rumah minka adalah nama umum dengan arsitektur tradisional, dan merupakan tempat kediaman rakyat bukan dari kalangan orang berkuasa. Rumah-rumah ini sudah ada sebelum akhir tahun 1800. Keindahan arsitektur minka terletak pada keharmonisan antara bentuk dengan bahan-bahan bangunan yang dipergunakan seperti tanah, kayu, dan batu yang berasal dari pegunungan dan hutan-hutan yang berada di sekeliling rumah.
Minka juga memiliki keanekaragaman gaya arsitektur bangunannya, terkait dengan tuntutan geografi setempat, iklim, dan industri. Sehingga setiap daerah di Jepang memiliki gaya arsitektur bangunan yang khas, seperti :
-          Minka di Jepang Utara
Minka di daerah Jepang bagian utara, pada umumnya memiliki bubungan terjal beratap jerami serta jendela kecil yang hanya ada di bubungan tersebut. Ini merupakan penyesuaian diri terhadap musim dingin yang panjang dan hujan salju yang banyak. Selain itu juga dirancang khusus untuk keperluan memelihara ulat sutra.
-          Minka di Jepang Selatan
Minka di daerah Jepang bagian selatan, pada umumnya terdiri dari sekelompok rumah-rumah yang relatif kecil, rendah dengan lantai yang ditinggikan agar memperoleh ventilasi semaksimal mungkin dan mengurangi bahaya tiupan angin taifun.

2. Bahan Bangunan Minka (民家)
Bahan bangunan yang dipergunakan antara lain, balok kayu besar untuk tiang utama rumah dan rangka-rangka penting dari kerangka rumah. Kayu juga digunakan untuk dinding, lantai, langit-langit, dan bubungan atap. Bambu digunakan untuk melapisi tempat-tempat kosong di antara dinding kayu dan setelah itu dilapisi dengan tanah liat untuk dijadikan dinding yang rata. Tanah liat juga dibakar menjadi genteng.
Rumput jenis tertentu dipergunakan sebagai atap, sedangkan jerami tanaman padi dipergunakan untuk dianyam menjadi tikar kasar yang disebut dengan Mushiro, dan tikar halus yang disebut dengan tatami, yang digelar di atas tikar kasar. Batu-batu terbatas dipergunakan untuk fondasi rumah, tidak pernah digunakan sebagai dinding.

3. Desain Khas Minka (民家)
1.      Pada bagian depan rumah lubang untuk masuk dipasangi dua lapis pintu. Lapis pintu bagian dalam (shouji) berupa pintu sorong, yang berlubang-lubang dan ditutupi kertas-kertas. Sedangkan pintu lapis muka atau depan berupa pintu kayu yang kokoh.
2.      Bagian dalam rumah dibagi menjadi ruang-ruang yang dipisahkan dengan pintu sorong yang berkisi-kisi. Pintu-pintu pemisah ruangan ini secara keseluruhan disebut dengan tategu. Kisi-kisi ini ditutupi kertas-kertas tebal tembus cahaya yang disebut fusuma.
3.      Adanya doma, yaitu salah satu bagian dalam rumah yang lantainya terbuat dari tanah liat yang sudah dikeraskan. Pada doma dipasang semacam oven untuk memasak yang terbuat dari tanah liat (kamado). Selain itu, di lantai ini juga diletakkan perapian terbuka (irori) untuk membakar kayu pemanas ruangan.
4.      Atap minka
Atap rumah minka sering dibuat curam, dan biasanya terbuat dari ilalang (kayabuki yane), sirap (itabuki yane), atau genteng (kawarabuki yane). Atap minka dapat dikelompokan menjadi tiga macam bentuk, yaitu :
-           Kirizuma, merupakan jenis atap yang paling sederhana yang berbentuk segi tiga (gabled roof). Jenis atap ini mempunyai dua sisi yang menurun dari balok bubungan utama (mune).
-           Yosumune, merupakan jenis atap yang mempunyai pinggang (hipped roofs). Atap jenis ini merupakan perkembangan dari kirizuma, karena pada kedua sisi sampingnya yang lain ditambah dengan atap miring, dan bubungannya tidak berbentuk lancip melainkan papak.
-           Irimoya, merupakan jenis atap berbentuk tiga segi, dengan atap tambahan yang berbentuk agak miring di sekitarnya, sehingga ruang dalam rumah menjadi luas.
 Pada rumah yang atapnya terbuat dari genteng keramik, genteng juga dipasang sampai ke ujung bubungan, dan untuk menghias puncak bubungan dipasang genteng yang ujungnya berbentuk kepala raksasa, yang disebut onigawara. Pada rumah yang beratap rumput juga dipasang hiasan pada kedua sudutnya yang disebut dengan munekazari.